Sembilan Mukjizat Nabi Musa Yang Jarang Kita Ketahui

Mukjizat merupakan suatu kejadian di luar kebiasaan orang yang terdapat pada diri seorang Nabi sebagai bukti bahwa ia benar-benar utusan Allah Swt. Selain itu, mukjizat juga sebagai sebuah tandingan atas kehebatan suatu kaum sesuai masanya.

Pada masa Nabi Muhammad saw., orang-orang Quraisy Mekkah dikenal sebagai bangsa yang pandai membuat syiir atau puisi dengan bahasa yang sangat indah. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. dibekali mukjizat yang luar biasa berupa Alquran dengan diksi dan gaya bahasa yang tak ada yang mampu menandinginya meskipun satu ayat saja.

Begitupun dengan Nabi Musa a.s. beliau dibekali sembilan mukjizat oleh Allah Swt. hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Isra’/17: 101 sebagai berikut.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَىٰ مَسْحُورًا

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir”.

Adapun kesembilan mukjizat yang dimaksud di dalam ayat tersebut lima di antaranya telah dijelaskan di dalam Q.S. Al-A’raf/7: 133.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Sementara empat lainnya telah diterangkan oleh Ibnu Abbas melalui riwayat Abdurrazaq, Said bin Mansur, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir. Bahwa kesembilan mukijzat tersebut adalah tongkat, tangan (yang bisa memancarkan cahaya), paceklik, terbelahnya lautan, angin topan, belalang, kutu, katak, dan darah.

Sementara Syekh Wahbah Az Zuhaili di dalam kitab tafsirnya At-Tafsir Al Munir ketika menafsiri surah Al-Isra’ ayat 101 tersebut memberikan keterangan lain. Beliau menjelaskan bahwa kesembilan mukijzat yang dimaksud ayat tersebut ulama berbeda pendapat. Namun tujuh di antaranya telah disepakati, yakni tongkat, tangan Nabi Musa a.s. yang menjadi putih (karena memancarkan sinar), angin topan, belalang, kutu, katak, dan darah. Sementara dua lainnya masih diperdebatkan.

Ada yang mengatakan terbelahnya lautan dan paceklik. Ada yang mengatakan terbelahnya lautan, dan digoncangkannya gunung Thur sebagai azab untuk Bani Israil. Ada pula yang berpendapat terbelahnya lautan dan terlepasnya ikatan dari lisan Nabi Musa (lancarnya Nabi Musa a.s. ketika berkomunikasi dengan Firaun dan kaumnya, padahal awalnya lidah beliau pelo dan sulit berbicara). Sementara menurut Imam Mujahid dan lainnya keduanya adalah musim paceklik dan gagal panen.

Lebih lanjut, Syekh Wahbah menerangkan bahwa kesembilan mukjizat yang disebutkan Allah di dalam ayat tersebut bukanlah pembatasan, alias bisa bertambah. Sebagaimana di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan bahwa spesifikasi bilangan yang disebutkan itu tidak menunjukkan tidak adanya tambahan.

Bahkan imam Ar Razi menyebutkan bahwa di dalam Alquran sendiri telah menyebutkan enam belas mukjizat Nabi Musa a.s. yakni hilangnya ikatan dari lisannya Nabi Musa a.s. sehingga lisan beliau menjadi sangat fasih, berubahnya tongkat menjadi ular, ular Nabi Musa a.s. tersebut dapat menelan semua tali dan tongkat kaum Bani Israil (yang juga memiliki kemampuan sihir merubah tongkat jadi ular), tangan yang putih, topan, belalang, kutu, katak, darah, terbelahnya lautan (Q.S. Al-Baqarah/2: 50), terbelahnya batu (Al-A’raf/7: 160), menghilangnya gunung (yang bisa terangkat di atas Bani Israil) (Q.S. Al-A’raf/7: 171), turunnya makanan dari surga yakni Al-Manna dan As-Salwa untuknya dan kaumnya, musim kekeringan/paceklik, gagal panen (Q.S. Al-A’raf/7:130), dan rusaknya harta Bani Israil baik madunya, tepung, makanan maupun uangnya.

Demikianlah mukjizat Nabi Musa a.s. meskipun di dalam surah Al-Isra’ ayat 101 Allah menyebutkan spesifik sembilang mukjizat, namun hal itu bukanlah batasan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Dan hal yang perlu ditekankan kembali untuk pelajaran kita adalah bahwa sebagian besar mukjizat yang diberikan Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s. adalah berupa sebuah azab untuk kaumnya Bani Israil yang kurang mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

9 Sejarah dan Mukjizat Nabi Musa

Tentang jumlah mukjizat Nabi Musa as, para ahli tafsir berbeda pendapat. Berawal dari QS. Al-Isra: 111 yang berbunyi, “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah ayat yang nyata , maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir”, sebagian berpendapat ‘9 ayat’ artinya 9 tanda kenabian Musa yang bentuknya adalah mukjizat. Adapun sebagian yang lain menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ‘9 ayat’ adalah 9 ayat di dalam Taurat yang intinya adalah 9 buah larangan yang tidak boleh dilanggar.

Tongkat

Replika Tongkat Nabi Musa as

Pada awalnya tongkat Nabi Musa as hanya tongkat biasa yang sering ia gunakan untuk berbagai keperluan, seperti yang dijelaskan dalam QS. Taha: 17-18, “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?”. Yang ditanya-pun menjawab: “…Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.”

Atas izin Allah, tongkat Nabi Musa as dapat berubah menjadi ular besar kemudian memakan ular-ular kecil hasil buatan para penyihir Firaun. “… Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang), dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka), dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” ( QS. Taha: 68-69)

Pada kesempatan yang lain, ia memukulkan tongkatnya ke batu besar, sehingga memancarlah 12 mata air untuk 12 suku Bani Israeil. “… Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS Al-Baqarah: 60)

Suatu ketika, ia memukul batu yang membawa lari bajunya ketika dirinya mandi, sehingga batu tersebut ada bekas pukulan sebanyak enam atau tujuh pukulan tongkat kayu Musa. Kisah didapati dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Dahulu Bani Israil biasa mandi dalam keadaan telanjang sehingga mereka pun bisa melihat aurat temannya satu sama lain.

Adapun Musa as mandi dalam keadaan sendiri. Maka mereka pun berkomentar, ‘Demi Allah, tidak ada yang mencegah Musa untuk mandi bersama-sama dengan kita melainkan pasti karena kemaluannya bengkak (mengidap kelainan).’” Nabi menceritakan, “Maka suatu saat Musa berangkat untuk mandi, lalu dia letakkan pakaiannya di atas sebongkah batu. Tiba-tiba batu itu berlari membawa pergi bajunya.” Nabi berkata, “Maka Musa pun mengejar larinya batu itu seraya berteriak, ‘Hai batu, kembalikan pakaianku! Hai batu, kembalikan pakaianku!’

Sampai akhirnya Bani Isra’il bisa melihat aurat Musa kemudian mereka berkomentar, ‘Demi Allah, ternyata tidak ada kelainan apa-apa pada diri Musa’. Maka berhentilah batu itu sampai orang-orang memandanginya.” Nabi berkata, “Kemudian Musa pun mengambil pakaiannya dan mendaratkan pukulan tongkatnya kepada batu tersebut.” Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, di atas batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan tongkat Musa.” (Shahih al-Bukhari, kitab al-Ghusi, bab Man Ightasala Wahdahu ‘Uryanan fil Khulwati wa Man Tasattar, hadits no.278, dan di dalam kitab Ahadits al-Anbiya’, bab Hadits al-khidhr ma’a Musa, hadits no. 3404; & Shahih Muslim, kitab al Haidh, bab Jawazul Ightisal ‘Uryanan fil Khulwah, hadits no. 339 dan kitab al-Fadhail, bab Min Fadha’il Musa hadits no. 339).

Fisik yang dimaksud di sini yaitu tangan Nabi Musa as yang dapat mengeluarkan cahaya berwarna putih yang menyilaukan, setelah ia memasukkan tangannya ke dalam jubahnya.

“… Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula).” (QS. Taha: 20:22)

“… Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscayaia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. An Naml: 12)

“Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Qashash: 32)

“… Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. (QS. Al-A’raaf: 108)

Taufan

Topan

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raf : 132)

Suatu masa, terjadi paceklik. Fir’aun dan para pengikutnya pun berjanji kepada Musa as bahwa jika Allah swt menghilangkan kesulitan tersebut maka mereka akan beriman kepada Allah SWT. Nabi Musa as kemudian memanjatkan doa, maka paceklik pun berlalu. Tetapi orang-orang kafir itu ingkar janji dengan mengatakan, “Paceklik itu pasti berlalu setelah sekian lama berlangsung”. Allah swt lalu menurunkan hujan badai yang berakibat banjir sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka.

Belalang

Belalang

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raf : 132)

Ketika banjir bandang melanda, kaum kafir kembali menemui Nabi Musa as dan berjanji akan beriman kepada Allah swt jika banjir berhenti. Nabi Musa as kembali memohon kepada Allah swt agar menghentikan hujan. Banyaknya air hujan yang membasahi bumi menyuburkan tanah sehingga hasil pertanian melimpah. Pemandangan indah berlimpahnya hasil pertanian membuat orang-orang kafir merasa aman dan mapan, dan tidak lagi mempedulikan janji yang telah mereka ucapkan kepada Nabi Musa AS.

Akibatnya, Allah SWT mengirimkan hama belalang yang memakan semua tanaman pertanian mereka dengan ganas. Maka, ladang pertanian yang tumbuh subur itu sirna dalam sekejap mata. Mereka meminta tolong kepada Nabi Musa as lagi, untuk berdoa kepada Allah SWT agar mereka terbebas dari kemalangan ini. Mereka berjanji lagi, “Kali ini, kami pasti menepati janji.” Musa as kembali lagi memohon kepada Allah SWT. Hama belalang surut. Ladang pertanian mereka pulih kembali. Ketika masa panen tiba, mereka menuai hasilnya dan menyimpannya di rumah-rumah mereka. Namun sekali lagi, mereka melupakan janji.

Kutu

Kutu

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raf : 132)

Selanjutnya, Allah swt menurunkan hama pengerat (kutu dan sejenisnya) untuk memakan hasil panen yang mereka simpan di rumah. Lagi, kaum kafir  bergegas kepada Nabi Musa AS dengan permintaan dan janji yang sama. Dengan penuh kesabaran, Nabi Musa as memenuhi permintaan mereka dan sekali lagi memohon pertolongan Allah swt. Sekali lagi siksaan dihentikan, sekali lagi pula kaum kafir ini mengulangi perbuatan mereka. Merasa cukup pangan, bisa makan enak dan menikmati hidup, mereka tidak lagi membutuhkan Allah swt.

Katak

Katak

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raf : 132)

Kemudian, Allah menghukum mereka dengan mengirimkan beribu-ribu katak ke lahan mereka. Katak pun menyebar kemana-mana, di rumah, di teko pemasak air, di dalam tempat penyimpanan makanan, juga di dalam air minum mereka. Kaum kafir menangis sejadi-jadinya penuh keputus-asaan, lalu meminta Musa kembali berdoa, dan berjanji lagi untuk beriman kepada Allah swt. Nabi Musa as yang baik hati kembali lagi memohon pertolongan Allah swt, dan Allah swt mengabulkan doanya. Katak-katak itu disingkirkan dari mereka. Lagi, kaum kafir mengingkari janji mereka, bahkan menjadi-jadi kesombongan mereka dengan berkata, “Musa benar-benar seorang penyihir yang sangat piawai.”

Darah

Darah

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raf : 132)

Allah swt mengirimkan hukuman lagi, kali ini dalam bentuk darah. Ketika orang-orang kafir mengambil air minum dari sumur, air yang diambil berubah menjadi darah. Makanan yang mereka makan pun berisi darah. Jika mereka mencoba memasak makanan, juga berubah menjadi darah. Atas mukjizat Allah swt, orang-orang mukmin terhindar dari keadaan ini. Kejadian ini hanya berlangsung di rumah-rumah orang-orang kafir.

Kemudian, jika orang-orang kafir meminta air kepada orang-orang mukmin, air itu pun berubah menjadi darah begitu akan dimanfaatkan oleh orang-orang kafir. Lagi, kaum kafir bergegas kepada Nabi Musa as dengan janji-janji yang selanjutnya mereka ingkari lagi ketika hukuman telah diangkat dari mereka. Oleh karena perilaku mereka yang demikian itulah Allah SWT berfirman, “Mereka itu amat sombong dan adalah pelaku dosa-pelaku dosa kambuhan (keras kepala dalam keburukannya).”

Cacar

Penyakit Cacar

Setelah itu, orang-orang kafir itu dihukum dengan wabah penyakit sejenis cacar. Sekitar tujuh puluh ribuan orang tewas akibat penyakit ini. Mereka pun datang lagi kepada Nabi Musa as agar mendoakan mereka. Dengan janji, bahwa pasti kali ini mereka akan mengikuti petunjuk Allah swt setelah mereka terbebaskan dari penderitaan ini.

Namun, kemudian mereka bukannya sekedar ingkar janji, bahkan mereka melemparkan tuduhan bahwa keberadaan Musa di tengah-tengah merekalah yang mengakibatkan terjadinya kemalangan demi kemalangan itu. Maka, orang-orang kafir mengusir Nabi Musa as dan para mukminin dari rumah mereka.

Membelah Laut

Ilustrasi laut terbelah

Ketika Nabi Musa as dan para mukminin pergi dari rumah, kaum kafir itu mengikuti kepergian dengan maksud membunuh mereka. Hingga sampailah mereka di tepi laut. Allah swt membelahkan air laut untuk mereka melalui tongkat Nabi Musa as yang dipukulkan ke laut. Nabi Musa as dan pengikutnya selamat sampai ke seberang. Adapun Fir’aun dan para pengikutnya ditenggelamkan oleh Allah swt di dalam laut

“… Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” (QS. Taha: 77)

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy Syu’araa’: 26:63)

Sumber bincangsyariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *